Mungkin istilah “Menerima Apa Adanya” itu sudah sangat umum dikala kita menjalin sebuah hubungan, atau bahkan saat kita masih mencari orang yang tepat untuk kita jadikan teman hidup / pacar.
Kita pasti pernah mendengar kata-kata ” Maukah kau menerima apa adanya aku? ” atau ” Kalau kamu mau jadi pacarku, apa kamu mau menerima apa adanya aku? ” .

Ya mungkin ga da yang salah dari kalimat / pertanyaan di atas. Tapi apa kalian memahami apa sebenarnya arti dari menerima apa adanya. Yang aku lihat sih sebenarnya masih banyak orang yang terlampau mengandalkan kata-kata ini untuk memberikan gambaran tentang siapa sebenarnya dia dan berharap pasangan yang mendengar kata-kata atau pertanyaan itu mau mengerti tentang keadaan dia, dan menerima dengan sepenuh hati apapun yang ada pada dirinya walaupun itu adalah sebuah hal yang buruk / jelek.

Sebenarnya konteks yang boleh / tepat digunakan untuk kata-kata tersebut itu adalah hanya hal yang menggambarkan keadaan yang tidak dapat dirubah. Misal fisik seperti cacat itu kan ga bisa dirubah, otomatis itu memang harus bisa diterima dan harus dibutuhkan pengertiannya. Satu lagi keadaan ekonomi yang mungkin walaupun masih bisa dirubah tapi itu juga ga bisa dipaksakan secepatnya dapat berubah mesti butuh proses dan yang namanya rejeki kan hanya Tuhan yang tahu.

Lah sekarang aku mau ngasih tahu konteks yang sebenarnya  ga pas atau ga tepat untuk kata-kata “menerima apa adanya” yaitu seperti
contohnya sikap / sifat . Contohnya ” Aku itu pemarah & suka berkata kasar, itu apa adanya aku, kalau kamu mau jadi pacarku kamu harus menerima apa adanya aku” . Itu adalah contoh yang salah soalnya sifat / sikap walaupun sulit untuk dirubah tapi itu kan masih bisa dirubah yang penting keyakinan kita kalau sifat / sikap itu sebenarnya hal negatif yang bisa merugikan atau menyakiti orang lain. Dan otomatis dalam menjalin hubungan itu harus lah sesuatu yang memang memberikan kebahagiaan bukan sebaliknya. Kalau sifat pemarah & berkata kasar itu sudah mengganggu dan dirasa membuat kurang nyaman hubungan ya otomatis hal itu harus dirubah agar hubungan itu bisa berjalan dengan baik, kalau tidak mau atau tidak bisa dengan dalih kalau itu sifat yang tidak bisa dirubah, ya buat apa dipertahankan hubungan itu kalau hanya isinya berusaha menerima dia dengan hati yang dongkol atau tidak legowo. Dan yang dimaksud menerima apa adanya itukan haruslah menerima dengan ikhlas tanpa ada perasaan yang mengganjal.

Dan satu lagi hal yang salah kaprah untuk konteks menerima apa adanya yaitu kebiasaan. Ya .. kebiasaan itu tidak termasuk hal yang tidak dapat dirubah, soalnya kebiasaan memang ada kebiasaan buruk dan kebiasaan baik. Dan disini pastinya yang harus dirubah itu adalah kebiasaan buruk, seperti contohnya suka minum2an keras, suka merokok atau mungkin kebiasaan suka ketawa keras2 dll. Itu hal yang sebenarnya tidak membutuhkan pengertian, karena kebiasaan2 itu memang masih bisa dirubah.

Dalam hal kalimat “menerima apa adanya” memang tersirat komitmen untuk memberikan sepenuhnya pengertian atau rasa mengerti tentang hal yang dimiliki pasangan. Yang dimana disitu dapat diartikan bahwa kata2 itu adalah hal yang HARUS dimengerti dan tidak bisa dilawan, kalau kita membantah nya nantinya kita akan dicap sebagai orang yang suka mengatur ataupun egois karna tidak mau mengerti tentang hal2 pada diri pasangan.

Padahal kalau kita pahami, bahwa orang yang egois itu sebenarnya adalah orang yang memaksakan diri untuk dimengerti dengan kata2 menerima apa adanya itu, itu lah orang yang egois, orang yang tidak mau merubah sifat / sikap atau kebiasaan buruk nya dan tetep kekeuh minta dimengerti dan harus diterima apa adanya dia, padahal apa adanya dia itu masih bisa dirubah.

Kalau ada yang bilang “Aku ini memang cuek, suka ngambekan, cemburuan tapi ini apa adanya aku, jadi kalau kamu memang sayang aku, kamu harus mengerti dan mau menerima apa adanya aku ” .
Itu bukan lah kalimat orang yang sayang sama kamu tapi itu adalah bentuk dari orang yang ingin memaksakan dirinya agar dimengerti dan diterima, walaupun itu adalah sifat buruk. So, berikanlah pengertian tentang apa sebenarnya yang dimaksud menerima apa adanya, menerima apa adanya itu adalah hal yang penuh keikhlasan tanpa paksaan dan pastinya tanpa ada sesuatu yang disimpan.

Kalau hal2 yang dikemukakan itu membuat kita terpaksa mengertikannya atau memahaminya, sebaiknya katakan apa yang dirasa agar dia mau merubah sifat / sikap atau kebiasaan buruknya. Agar nantinya hubungan itu bisa dijalani tanpa ada paksaan dan dijalani dengan rasa yang ikhlas.

Seperti kata Om Mario Teguh

JANGANLAH MENERIMA APA ADANYA, JIKA YANG LEBIH BAIK MASIH MUNGKIN.

MENGUPAYAKAN YANG LEBIH BAIK, adalah sikap yang mensyukuri apa pun yang telah ada pada diri ini, UNTUK MENCAPAI YANG TERBAIK bagi diri, keluarga, dan sesama.

Mungkin, tidak ada orang yang lebih disia-siakan hidupnya, daripada dia yang diharuskan menerima apa adanya, saat yang lebih baik masih mungkin baginya.

Mario Teguh – Loving you all as always

Mario Teguh
“Menerima apa adanya bukanlah sikap yang mewakili keberserahan kepada Tuhan.”
” Jangan berharap menemukan wanita / pria yang mau menerima Anda apa adanya, jika Anda tidak ada apa-apanya.”

NB. Ini hanyalah pendapat pribadi jadi kalau tidak berkenan saya mohon maaf