MUSIKKU BERAWAL DARI MIMPI

By Buddy Toelank

Pagi memancarkan sinar mentari menghangatkan tubuhku yang masih terbaring  di kasurku yang empuk, mataku sudah terjaga namun rasanya malas sekali untuk bangun, ah……bangun pagi-pagi juga mau apa pikirku, tak ada kerjaan hari ini. Hasil kebun yang biasa aku antar ke pasar sudah ku jual semua kemaren, jadi aku bias istirahat hari ini,dan aku bias santai.
Tiba-tiba suara ketukan dari jendela kamarku
Tok…tok…tok…
“Jack…Jack…” Suara itu terdengar jelas memanggil namaku, aku segera bergegas membuka jendela yang kebetulan berada tepat di samping tempat aku tidur. Aku ingin memastikan siapa yang sepagi ini sudah mengetuk-ketuk jendela kamarku.
“Ah siapa sih…” gumamku dalam hati
Kubuka jendela kamarku dan kulihat Kosim, sahabat setiaku yang setiap hari main ke rumahku sedang berdiri tepat di depan jendela kamarku. Tangannya memegang gitar yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi, karena dia memang musisi sejati, hamper setiap hari kerjaannya hanya bermain gitar dan membuat lagu. Benar-benar orang yang gila akan musik.
Tanpa sepatah katapun tiba-tiba dia menyerahkan gitar kesayangannya  padaku.
“Loh ada apa Sim ? koq gitarnya kamu kasih ke aku sih?”tanyaku heran
“Sudah…simpan saja gitarku, kalau nanti bapakku Tanya bilang saja kamu nggak tahu yah…”pintanya. Aku hanya terdiam tak mengerti maksudnya menyerahkan gitarnya padaku.
“Emang kenapa sih?”tanyaku lagi ingin tahu
Sambil celingukan matanya memandangi sekitar samping kamarku, dia seakan-akan sedang menghindar dari seseorang.
“Gini Jack…”dia berusaha menjelaskan
“Semalam bapakku marah besar gara-garanya semalam aku main gitar sampai malam………..” belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya aku sudah tak sabar ingin lebih tahu perihal masalahnya itu.
“Lah emangnya kenapa?bukannya sudah biasa tiap malam kamu main gitar sampai larut malam malah sampai pagi….”aku memotong kata-katanya.
“….makanya dengerin dulu kata-kata aku sampai selesai….semalam aku main gitar sampai malam,dan aku lupa kalau semalam aku harus jemput bapakku di balai desa..”
“Ohh….gitu toh..”aku mengangguk tanda mengerti
“Jadi simpan saja gitarku,semalam dia mengancam bakal membakar gitarku kalau aku masih tetap main gitar terus….” tambahnya lagi
“OK deh boz…”jawabku santai
“Ya udah aku harus pulang dulu yah.bahaya kalau ketahuan bapakku”. Sesaat itu juga Kosim bergegas dari pandangan mataku. Gerak geriknya mirip maling ayam pikirku, benar-benar orang aneh pikirku lagi, begitu sayangnya dia sama gitarnya.
Aku hanya tertegun melihat sahabatku itu berlalu. Dia memang pencinta musik sejati. Tak ada hari tanpa musik katanya. Bakatnya dibidang musik memang tak diragukan lagi. Hampir  semua lagu dia bisa memainkannya.
Hari-harinya hanya bermain gitar atau mendengarkan musik. Pantas saja bapaknya selalu saja marah-marah,sebab anaknya kerjaannya hanya main gitar mulu tanpa mau bekerja. Kalaupun mau bekerja pasti ada maunya. Benar-benar orang gila musik pikirku lagi.
Impiannyapun begitu tinggi dia ingin menjadi gitaris seperti Ian Antono atau Abdi Slank, gitaris idolanya. Dia selalu mengajariku bermain musik, tapi dasar aku ngga bakat, tetap saja aku ngga bisa menguasai alat musik. Tapi katanya suaraku bagus jadi pantesnya jadi vocalis saja bukan pemegang alat musik. Entah itu sebuah pujian atau hanya untuk membesarkan hatiku saja, entahlah…
Semangatnya untuk musik mungkin melebihi apapun, diapun berharap suatu saat kami bisa membentuk sebuah grup musik dan bisa menjadi grup musik yang terkenal. Tapi buat aku rasanya itu sebuah impian yang sangat mustahil, kami hanya pemuda kampung yang main musikpun kita pas-pasan. Tapi katanya tak ada yang tak mungkin kalau kita mau bekerja keras. Kita memang pemuda kampung yang hidup di kampung terpencil dan kecil tapi semangat dan harapan kita  tak boleh ikut kecil. Bermimpilah setinggi langit dan yakinlah kita mampu meraihnya katanya.
“Ah…dasar Kosim…” pikirku, aku hanya bisa menghela nafas mengingat kegilaan sahabatku itu terhadap musik.
Matahari kini sudah sedikit meninggi seperti biasa sehabis menimba air disumur aku hanya duduk santai diteras depan rumah sambil mendengarkan musik yang terdengar dari radio butut pemberian kakekku.
Tiba-tiba dari kejauhan terlihat Kosim sedang berjalan menuju rumahku, pakaiannya benar-benar funky dan metal. Rambutnya klimis,jaket hitam, celana ketat dan tak lupa rantai menggantung di samping celana, benar-benar gaya rocker.
“Hai Jack…” dia memanggilku, aku hanya terdiam. Dia memang sudah biasa memanggilku dengan nama Jack padahal nama asliku itu Jaka. Katanya sih namaku itu ngga funky atau apalah…
“Ada apa Sim,pagi-pagi gini sudah dandan keren gitu?” tanyaku heran melihat tingkahnya itu.
“Kita ke kota yuk…katanya di kota ada festival band dan katanya bintang tamunya itu D’nasib”jawab dia penuh semangat, aku hanya terdiam bengong.
“Buruan ganti baju….’ Perintahnya agar ku cepat ganti baju. Akupun segera bergegas menuju kamarku dan segera mencari baju yang masih pantas aku pakai, mungkin karena sudah lama aku ngga ke kota.
Setelah aku ganti baju akupun langsung bergegas menemui Kosim.
“Lah gitu donk…khan cakep dan funky abissss…..” teriak Kosim melihat dandananku yang katanya funky. Ya pakaianku hampir sama dengan Kosim tapi semuanya sudah kusam soalnya itu juga peninggalan kakakku dulu jadi agak kelonggaran juga.
Akhirnya kami bertiga ditambah Ali sahabatku  berangkat ke kota.

Setelah perjalanan 2 jam dari kampung kami, akhirnya kami sampai juga di kota. Kami berdua langsung menuju ke tempat festival band itu yang kebetulan berada di sebuah gedung di alun-alun kota.
“Sim, besar banget yah gedungnya…” celetukku terkagum melihat kemegahan gedung festival itu.
“…tapi ngomong2 bayar ngga nih masuknya,aku khan ngga bawa uang banyak Sim..?” tambahku lagi, Ali dan aku berhenti. Kosim masih terus berjalan santai.
“Santai saja katanya gratis kok….”jawabnya santai sambil terus berlalu meninggalkan kami berdua. Kami kembali melanjutkan perjalanan.
Dengan penuh percaya diri kamipun masuk kedalam gedung. Tapi tiba-tiba saat kami melewati para penjaga langkah kami terhenti.
“Mana kartu anggota kalian…?”Tanya salah seorang penjaga.
“Maksud bapak apaan pake kartu anggota segala…?”tanya Kosim heran. Penjaga itu terlihat geram mendengar pertanyaan Kosim.
“Jangan bilang kalian tidak punya kartu anggota??!!!” bentak penjaga itu.
“Ngga pak, kami memang ngga punya kartu anggota, tapi kalau KTP kami punya…” jawabku lugu.
Tiba-tiba tubuh kami didorong keluar oleh penjaga itu.
“Keluar ….keluar…..” bentak penjaga itu lagi menyuruh kami keluar.
“Loh kenapa pak kami ngga boleh masuk?” tanyaku ingin tahu.
“Kalian ngga bisa baca pa? ini festival khusus untuk komunitas Rock yang punya kartu anggota” bentaknya lagi sambil menunjuk sebuah papan bertuliskan “JUST FOR ROCK COMMUNITY”.
Tapi kami bertiga tetap saja ingin masuk dan mencoba merangsek ke dalam. Dan tiba-tiba sebuah pukulan mengenai wajah Kosim.
BUUK……!!!!
Tubuh Kosim terpental dan terjatuh,kamipun langsung menolongnya.
“Sudah saya bilang kalian harus punya kartu anggota kalau kalian ingin masuk..” bentak lagi penjaga itu. Kami hanya terdiam menahan emosi.
Tak beberapa lama tiba-tiba datang segerombolan pemuda memakai mobil mewah,dan mereka langsung masuk saja tanpa menunjukan kartu anggota mereka. Kosimpun langsung menemui penjaga itu.
“Pak, kenapa bapak memperbolehkan mereka masuk padahal mereka juga tidak menunjukan kartu anggota”tanya Kosim penuh emosi.
“Ah…kalian ngga usah mengatur saya, mereka itu anak-anak orang kaya mereka tak perlu kartu anggota untuk masuk..” jawab penjaga itu
“….kalian itu cuma pemuda kampung, jadi tak usah kalian mengatur saya,lebih baik kalian pulang saja ke kampung..jangan harap kalian bisa masuk ke dalam ..dasar orang kampung” tambahnya lagi dengan nada sinis.
Mata Kosim berkaca-kaca tangannya mengepal dan tiba-tiba dilayangkannya pukulan ke wajah penjga itu. Penjaga itupun tersungkur dan kamipun langsung berlari karena para penjaga yang lainpun akhirnya mengejar kami.
Akhirnya kamipun tak jadi menonton festival band itu. Dan kulihat mata Kosim terlihat penuh amarah, dimatanya seperti terbenam sebuah letupan emosi dan dendam. Tiba-tiba tangannya menepuk bahuku.
“Jack….”
“…..kita buktikan kalau pemuda kampong seperti kitapun suatu saat bias masuk ke gedung itu ….” Kata-kanya benar-benar begitu dalam,didalam hatinya seakan ada letupan semangat untuk membuktikan pada para penjaga itu bahwa pemuda kampung seperti kitapun suatu saat bisa masuk ke gedung itu…..
“Kita buktikan dengan karya kita………” tambahnya lagi penuh semangat.

Hari berganti setelah peristiwa di kota itu, Kosim menjadi sering mengajari kami bermain musik.
“Jack Kita buktikan sama para penjaga yang kemaren itu, kalau kita juga punya jiwa musik, walaupun kita dari kampung…” jelasnya penuh semangat.
Aku hanya terdiam sambil tersenyum kecil. Anak ini belum melupakan kejadian kemaren rupanya pikirku. Ah dasar Kosim semangat selalu membara kalau sudah bicara tentang musik dan cita-citanya untuk menaklukan dunia dengan musik. Ada-ada saja mimpinya itu, dan mungkin itupun hanya sebatas mimpi pikirku. Tapi Kosim tak pernah menyerah dan putus asa untuk berusaha mewujudkan mimpinya itu.
“Jack kamu pernah mendengar lagunya Bondan ft Fade2back yang Hidup Berawal dar Mimpi?”tanyanya padaku.
“Iya..aku pernah mendengarnya…” jawabku
Seketika itu Kosim mengambil gitarnya yang dari tadi disenderkan dekat kursi dia duduk.
Jreeeng………suara Kosim mulai memainkan sebuah musik.
“…Tinggalkanlah gengsi hidup berawal dari mimpi, gantungkan yang tinggi agar semua terjadi…” dia menyanyikan sebuah bait lagu Bondan itu,dan tiba-tiba dia berhenti.
“Kenapa berhenti Sim?” tanyaku heran.
Dia menatapku.Setelah menghela nafas dia lalu berbalik Tanya padaku
“Kamu tahu arti lirik lagu itu..?”
Aku hanya terdiam tak menjawab satu katapun. Bahasa tubuhku seakan sudah terbaca oleh Kosim. “Apa artinya?” mungkin itu ariti bahasa tubuhku.
“Hidup selalu berawal dari sebuah mimpi, karena mimpi adalah kekuatan dan imajinasi kita untuk mencapai hidup yang lebih baik. Kamu tahu? Banyak penemu yang berhasil sukses dan menjadi terkenal karna karyanya itu dan itu semua berawal dari sebuah mimpi…”
“…walaupun banyak orang yang meremehkan dan tidak mempercayainya tapi mereka terus berkarya, karya yang berawal dari mimpi…” jelasnya panjang lebar aku hanya terdiam menjadi pendengar setia.
Aku tak bisa berkata apa2 pikiranku kosong,aku tak menyangka Kosim sahabat sejatiku itu memiliki filosofi sebuah hidup yang tinggi.
“Jadi…” tambahnya lagi
“…kita jangan takut untuk bermimpi…dan mimpi kita adalah menaklukan dunia dengan musik, karena hanya itulah kita bisa. Kita akan buktikan pada dunia bahwa pemuda kampung seperti kitapun bisa berkarya…” jelasnya lagi panjang lebar dengan semangat.
“..dan dari mimpi inilah kita mulai…” tambahnya lagi.
Mataku masih terus menatapnya, mulutku hanya terdiam sementara dia kembali memainkan gitarnya.

Waktu terus berputar hari-hari berganti. Kosim semakin semangat mengasah bakatnya dan tak jarang kami berlatih di studio Bang Bebeng kenalan Kosim yang memiliki studio musik di Kota.
Hampir setiap minggu kami berlatih. Tak sedikit pula yang terpukau melihat penampilan Kosim. Bahkan kamipun sering di undang untuk mengisi sebuah acara seperti ulang tahun ataupun hanya sebatas main di 17an di kampung kami.
Semakin haripun nama Kosim menjadi terkenal sebagai gitaris handal dikalangan anak-anak yang biasa main di studio Bang Bebeng. Tak jarang dia mengajari anak-anak yang butuh bantuannya untuk di ajari gitar.
Dari kampung ke kampung kami memainkan lagu-lagu karya kami sendiri. Walaupun kami tak pernah mendapat bayaran tapi kami tetap senang.
Hingga akhirnya disuatu siang datang seorang yang berperawakan perlente, tubuhnya besar, perutnya buncit dan kepalanya agak botak. Dia mendatangi kami yang sedang berlatih di studio Bang Bebeng.
“Permainan kalian sungguh bagus….”puji orang itu, kami hanya tersenyum senyum sambil mengucapkan terima kasih
“Perkenalkan saya Dewa, saya sangat tertarik dengan musik kalian…” tambahnya lagi memperkenalkan diri
“…saya bisa mengorbitkan kalian menjadi band terkenal..”tambahnya lagi.
Kamipun langsung antusias mendengar ucapannya,mata kami terus menatap pada orang bernama Pak Dewa itu.
“Saya produser rekaman dan kebetulan saya sedang mencari proyek baru untuk saya orbitkan dan sepertinya kalian yang saya cari…”
Kosimpun langsung semangat mendengarnya
“Jadi maksud bapak kami bisa rekaman?”tanyanya penuh antusias
“Ya…”jawabnya mantap, kami hanya saling pandang pikiran kami melambung tinggi diawan-awan sebuah jalan menuju sukses sudah ada didepan mata pikirku.
“Kalian pasti tahu band D’nasib?” tanyanya,kami hanya mengangguk.D’nasib memang band yang sangat terkenal di daerah kami, lagu-lagunya selalu ngehits di radio-radio.
“…mereka itu yang mengorbitkan adalah saya..jadi kalianpun bisa jadi seperti mereka..”tukasnya lagi meyakinkan kami.
“Jadi kami harus gimana pak, apa kami bisa langsung menyerahkan demo lagu-lagu kami?” tanya Kosim lagi dengan semangat.
“Ya…bisa, yang penting itu lagu-lagu karya kalian sendiri, hari ini bisa langsung saya bawa dan saya serahkan ke label..” jawabnya penuh dengan keyakinan.
Dan akhirnya kamipun menyerahkan demo lagu kami yang sudah kami rekam seminggu yang lalu. Sebuah tawapun membahana di sudut ruang studio, akhirnya mimpi kami untuk menjadi grup musik terkenal akan tercapai…trima kasih Tuhan pikirku,perjuangan kami tak sia-sia.
“Saya nanti akan menghubungi kalian seminggu lagi Ok?”
“OK pak…!!!” jawab kami serempak penuh semangat, seminggu lagi kami akan mengetahui hasilnya.

Tak terasa seminggu sudah berlalu tapi tak pernah kabar dari pak Dewa, padahal kami sudah memberikan nomer telp Bang Bebeng padanya untuk dihubungi tapi sampai detik ini kami belum dihubungi. Ada perasaan kecewa dihati kami tapi masih ada juga terselip harapan besar agar lagu-lagu kami bisaditerima dan bias direkam. Hari itu kami menungggu pak Dewa dari pagi hingga malam di Studio Bang Bebeng berharap pak Dewa menghubungi kami,tapi nyatanya tak ada kabar beritanya. Dan kamipun pulang dengan hati kecewa.
Tiga bulan berlalu sejak kami menyerahkan rekaman demo lagu kami pada pak Dewa,tapi tetap saja tak pernah ada kabar. Hari hari kami hanya memikirkan hal itu. Harapan yang membumbung tinggi kini seakan terjatuh lunglai, kegembiraan yang terlihat saat pertama kali kami bertemu pak Dewa tak terlihat di raut wajah kami. Mimpi kami untuk rekaman dan terkenal sepertinya belum bisa terwujud. Harapan dan cita-cita kami kini memang hanya tinggal mimpi…ya…hanya mimpi…

Pagi ini seperti biasa aku hanya duduk santai sambil mendengarkan musik dari radio bututku,
“Selamat pagi para pendengar setia…” terdengar suara penyiar radio menyapa para pendengarnya. Jam segini memang memang sedang acara musik, jadi aku mengeraskan volume radioku…
“…..kita akan putarkan sebuah lagu baru dari band kenamaan D’nasib….”
Tak berapa lama kemudian terdengar sebuah intro musik,aku mendengarkan dengan santai. Tapi tiba-tiba aku terbangun dari dudukku kucoba mendekatkan diri pada radio bututku itu dan kembali mengeraskan volumenya, sepertinya ada yang aneh pada lagu D’nasib yang baru ini. Sepertinya lagu itu sudah tak asing lagi aku dengar…dan akhirnya aku baru sadar kalau lagu itu adalah lagu KAMI…!!!
Aku benar-benar kaget mendengarnya,sejak kapan kami memberikan lagu itu pada D’nasib,ini pasti ulah pak Dewa pikirku. Kosim harus tahu masalah ini, akupun langsung bergegas menuju rumah Kosim.
Dan kulihat Kosim sedang mengelap gitarnya dan ku langsung tarik tangannya agar dia mengikutiku,dia terkaget dan berusaha melepaskannya
“Apa-apaan sih…ada apa?” tanyanya heran
“Ayo ikut aku, kamu pasti bakalan kaget kalau mendengarnya…” jawabku sambil terus menarik tangannya,dan akhirnya diapun menurut.
Aku meletakkan radioku di atas meja agar Kosim bisa mendengarkan lagu yang diputar di radio itu yang aku yakini kalau itu lagu band kami yang memang di buat oleh Kosim.
Di radio masih terdengar lagu D’nasib yang baru itu..mata Kosim berkaca2 ada amarah dalam tatapannya. Tangannya mengepal seakan sedang menahan sebuah kekecewaan yang mendalam.
“Brengsek…..ini pasti ulah pak Dewa” teriaknya sambil beranjak berdiri dari duduknya.
“Apa yang harus kita lakukan…”tanyaku
Tatapan Kosim kosong pikirannya tajam menatap radio bututku.
“Kita ke kota…kita cari tahu dimana pak Dewa..mungkin dari stasiun radio ini kita bisa tahu..”jawab dia mantap.
Dan akhirnya kami bertiga menuju stasiun radio yang menyiarkan lagu baru D’nasib itu dan berharap mereka tahu keberadaan pak Dewa.
Kamipun tiba di stasiun radio itu.Di depan kantor stasiun radio itu terlihat banyak orang yang berkerumun sepertinya ada acara khusus.
“Ada apa ni mas kok ada rame-rame?”Tanyaku pada seorang yang sedang berekerumun di depan stasiun radio itu.
“Masa mas ngga tahu di dalam kan lagi ada acara Launching Album Baru D’nasib” jawabnya, kamipun langsung bergegas masuk kedalam kantor itu.
Dan terlihat para personil D’nasib band dan disitu nampak juga pak Dewa mendampingi mereka. Tanpa banyak basa basi Kosim langsung menghampiri pak Dewa.
“Pak Dewa….!!! Apa maksud bapak membajak lagu kami” bentak Kosim pada pak Dewa. Pak Dewa hanya terdiam ditatapnya Kosim dengan sinis.
“Kalian siapa?jangan mengada-ada kalian..”tanyanya berlagak tak mengenal kami.
“Brengsek….bapak ngga kenal kami?sungguh benar-benar keterlaluan”teriak Kosim lagi di dorongnya pak Dewa dan akhirnya menimbulkan keributan yang membuat mata semua orang menatap pada kami. Dan tiba-tiba datang seorang menenangkan kami.
“Ada apa ini?” Tanya orang itu.
“Mereka menuduh aku membajak lagu mereka katanya..ada-ada saja..” jawab pk Dewa tk bedosa.
Kosimpun semakin kalut di dorongnya lagi pak Dewa…
“3 bulan lalu pak Dewa meminta demo lagu kami padanya katanya kami mau rekaman tapi buktinya lagu kami malah diserahkan untuk D’nasib..” Balasku penuh emosi.
“Mana buktinya?” timpal lagi pak Dewa yang membuat kami bingung untuk menjawabnya. Kami terdiam dan pak Dewa tersenyum sinis pada kami.
“Ayo mana buktinya?” tambahnya lagi mengejek kami. Kosim terus menatap tajam pak Dewa tangannya mengepal kuat.
“Brengsek….inikah balasannya buat kami…kami memang pemuda kampung, tapi bukan berarti kami bisa dilakukan sewenag wenang seperti ini…” teriak Kosim pada pak Dewa.
“Kalian itu cuma pemuda kampung…sudahlah jangan bermimpi untuk menjadi band terkenal..ada-ada saja mengaku aku lagu kami..lebih baik kalian pulang urusi saja ternak kalian…hahahahahaha.” balas pak Dewa yang dibarengi oleh tawa para pengunjung yang hadir diacara itu.
Dan Kamipun diusir oleh para security stasiun radio itu, kami seakan-akan seperti sampah yang dibuang begitu saja. Habis manis sepah dibuang pikirku…

Sore itu kami kembali ke kampung dalam perjalanan kami terus menenangkan Kosim agar bersabar, Kosim hanya terdiam sepertinya ada hal yang ingin ditumpahkannya.
Sesampainya dikampung dia langsung berlari menuju rumahnya dan mengambil gitarnya. Dia berjalan cepat menuju bukit dibelakang kampung kami, kamipun mengikutinya,aku takut terjadi apa-apa padanya..
Sesampainya dibukit sinar matahari senja menyapa kami, Kosim berdiri diatas batu di dekat pohon,matanya mengeluarkan airmata,baru pertama kali ini aku melihatnya menangis matanya merah dan terlihat penuh amarah Di tatapnya langit sore yang indah itu dan tiba-tiba dilemparnya gitar kesayangannya itu ke dalam jurang dibawah bukit yang membuat kami terkaget dan segera menemui Kosim.
“Sim apa yang kamu lakukan..itukan gitar kesayangan kamu..”tanyaku heran
Kosim menatapku, matanya tajam diusapnya air matanya
“…benar kata kamu Jack..”jawabnya lirih
“Apa maksud kamu sim?” tanyaku lagi
“Mimpi seorang pemuda kampong mungkin memang hanya akan berakhir sebatas mimpi….”kata-katanya benar-benar meggambarkan keputus asaannya perasaan yang tak pernah aku lihat pada dirinya,dan ini semua karena ulah pak Dewa pikirku.
Akupun tak kuasa menahan amarah mendengar kata-katanya
“Sim…” ku dorong tubuh Kosim untuk menyadarkannya
“Mana…mana jiwa pantang menyerahmu, dimana?..” tanyaku keras, Kosim hanya tertunduk lemas matanya kini sayu.
“Katamu mimpi adalah kekuatan kita untuk membuktikan pada dunia bahwa pemuda kampung seperti kita itupun mampu berkarya…tapi kenyataannya sekarang kamu….”aku tak bisa meneruskan kata kataku airmata mengalir deras dari mataku.
Ku tatap langit sore itu dan kurangkul kedua sahabatku itu
“Sore adalah akhir sebuah hari dan setelah ini kegelapan akan datang tapi itu bukan berarti esok juga akan terus gelap, esok pasti akan muncul lagi cahaya….jadi kita pun harus yakin bahwa esok juga masih akan ada cahaya untuk kita…karena..” ku tunjuk dahi Kosim
“..karena kamu masih punya otak dan jiwa yang akan terus menghasilkan karya-karya dan karya lagi yang bagus..jadi janganlah menyerah,kita pasti masih punya harapan dan …”
“..MIMPI…yang akan terus kita capai”
Mentari sorepun akhirnya hilang tertelan kegelapan tapi itu bukan berarti akhir dari segalanya kita masih bisa berkarya untuk esok yang lebih cerah.
Sore itu cahaya sore mengantarkan kami pada harapan baru,hidup baru dan kitapun sadar hidup selalu ada halangan dan rintangan. Dan Jangan Takut bermimpi karena memang Hidup berawal dari mimpi..

nb : Masih Bisa Bersambung………..

Anda juga bisa baca cerpen ini di

http://sendecala.wordpress.com/2009/09/04/musikku-berawal-dari-mimpi/

http://toelank.wordpress.com/cerpenku/